Sabtu, 17 April 2010
Diuji dengan demonstrasi sekalipun, aparat Satpol PP asal Kota Batik tidak main gebuk atau mengejar warganya pakai pentungan. Mereka cuma melempar senyum, lalu membagi-bagi air.
Widjajadi
LANGKAH fenomenal yang dilakukan Satpol PP Kota Solo adalah ketika memindahkan sedikitnya 5.000 pedagang kaki lima (PKL) yang menduduki Lapangan Banjarsari ke Pasar Klithikan, tiga tahun silam. "Tidak ada kekerasan fisik sedikit pun. Pedagang yang tidak terima, dipersilakan mengambil langkah hukum," ujar Wali Kota Solo Joko Widodo.Kiat-kiat dialog yang dibangun bersama Satpol PP juga mencegah bentrqk ketika Kota Solo berusaha menertibkan PKL di luar Stadion Manahan. Berhari-hari Wali Kota bersama Satpol PP datang pagi-pagi ke lokasi, sekadar menyapa yang masih melanggar dan membujuk .ig.r bersedia berdagang di dalam stadion saat hari Minggu.
Jurus ini ampuh juga buat menertibkan ratusan penghuni liar di bantaran Kali Anyar, Bengawan Solo, dan bantaran Iain yang membahayakan jiwa. Selain membujuk, Wali Kota ditemani kepala Satpol PP mengundang pelanggar untuk datang makan ke rumah dinas Loji Gandrung. Di sana keduanya melancarkan negosiasi meja makan dengan gaya budaya Solo yang lembah manah.
Ya, kalau pendekatan kelompok belum berhasil juga, terpaksa harus dengan pendekatan personal. "Itu sebabnya sudah diwanti-wanti kepada seluruh anggota Satpol PP jangan sampai menggunakan kekerasan apalagi pentungan, karena itu bukan solusi. Para pelanggar itu tetap warga dan bukan musuh," kata Wali Kota.
Demikian reaksi Kota Solo ketika mengomentari peristiwa bentrok berdarah antara Satpol PP dan warga Koja, Jakarta Utara, dalam penggusuran kompleks makam Mbak Priok. Wali Kota Solo melihat bahwa kerusuhan Koja tersulut karena sejak awal Satpol PP sudah datang dengan memamerkan pentungan dan tameng.
Kedua peranti tersebut tak pernah digunakan Satpol PP Kota Solo, kendati dalam buku panduan operasional keduanya termasuk perlengkapan standar aparat di lapangan. Sebab, buat mereka, pentungan, tameng, atau lebih celaka lagi senjata api, mudah memancing dan mengarahkan kepada hal tidak baik yang bisa mengarah atau memicu terjadinya benturan fisik. "Meskipun ada inisiatif dialog, pada saat sama dibarengi dengan pamer perlengkapanyang mengarah pada hal-hal yang berlawanan. Sulit untuk menghasilkan kesepakatan atau solusi terbaik," kata Wali Kota.
Senyum dan peluit
Lalu apa andalan Satpol PP Kota Solo di lapangan? Belajar bela diri pun, mereka tidak. Tiga tahun lalu mereka pernah dipusatkan di Bandar Udara Adi Sumarmo, tetapi itu pun hanya pelatihan kedisiplinan. Kepala Satpol PP Hasta Gunawan menyatakan, sebagai pelayan publik modalnya ialah mereka berusaha tampil penuh senyum dan persuasif. Prinsipnya 5 si, yakni komunikasi, koordinasi, sosialisasi, solusi, dan realisasi.
Dengan prinsip itu, berbagai langkah penertiban hunian liar, PKL, pengemis, atau tempat usaha untuk penataan tata ruang kota di Solu bisa berlangsung damai tanpa gtjuLik berarti. Satpol IT Solo, lanjut dia, tidak pernah membawa pentungan dan tameng karena keduanya merupakan simbol kekerasan yang sejak awal sangat dihindari. "Jadi para anak buah saya saat di lapangan cukup membawa peluit dan buku panduan operasional. Di kantor Satpol PP Kompleks Balai Kota, tidak satu pun ditemukan perlengkapan pentungan" dan tameng, dan apalagi pistol atau senjata api."
Ia memaparkan, setiap terjun ke lapangan, Satpol PP berharap selalu menemukan solusi terbaik dan tidak asal eksekusi. Buktinya, cara ini manjur juga membuat warga bekerja sama ketika proses eksekusi. Dalam kebanyakan kasus, warga menertibkan diri sendiri dengan sukarela sehingga petugas Satpol PP hanya membantu tenaga sekadarnya.
"Lebih berkesan lagi, ketika dalam pelaksanaan relokasi dari bantaran sungai ke tempat baru, kami diminta untuk mengawal prosesnya yang dilakukan dengan cara-cara pawai budaya. Ini sungguh membuat kami merasa dihargai atau diuwongke. Kami sungguh bangga jadi petugas Satpol PP Kota Solo," timpalnya.
Pada bagian akhir Hasta menyatakan kiat Satpol PP Kota Solo dalam upaya menegakkan peraturan telah memberikan inspirasi bagi instansi yang sama di kota-kota lain. Banyak yang sudah melakukan studi banding dan kemudian menerapkan di kota asalnya. Terakhir yang datang adalah Satpol PP Aceh yang terkesan dengan proses pemindahan ribuan PKL Banjarsari ke Pasar Kltihikan Notoharjo, Semanggi, Kota Solo.(N-4)widjajadi@mediaindonesia.com
0 comments:
Post a Comment