Tuesday, July 27, 2010

Atribut kekudusan Allah

Pendahuluan
Ketika Leonardo Da Vinci melukis lukisan “The Last Supper”/ yang sering kita sebut dengan perjamuan terakhir, Da Vinci tidak mengalami banyak kesulitan dalam menggambar kecuali sedikit kesulitan dalam menggambar wajah-wajah dari orang-orang yang ada di lukisan tersebut. Ketika Da Vinci mulai melukis wajah orang-orang ternyata dia tidak mengalami kesulitan kecuali mengalami kesulitan yang begitu besar ketika dia harus melukis wajah Yesus. Dia merasa tidak sanggup dan tidak layak menggambar wajah Yesus yang begitu kudus, begitu suci. Sehingga dia memutuskan untuk menghentikan lukisan tersebut untuk sementara waktu, tetapi lukisan itu sangat lama tidak diteruskan meskipun dia tahu bahwa dia harus menggambar wajah Yesus untuk menyelesaikan lukisan tersebut. Dan pada akhirnya dia melukis wajah Yesus dengan begitu cepat dan seadanya saja karena dia pikir bahwa “Percuma berlama-lama. Saya tidak akan bisa melukis wajah-Nya”.
Ketika kita berbicara tentang kekudusan Allah kita mengalami kesulitan yang serupa karena ketika kita berbicara tentang kekudusan Allah. Kita hanya mendengar alunan suara orang yang berdiskusi, berdebat dengan amat seru tentang kesucian Allah tetapi kita tidak bisa melihat Allah yang dibicarakan secara fisik dan terlebih ketika kita berbicara tentang kekudusan Allah maka kita pasti merasa bahwa diri kita ini adalah orang yang berdosa yang tidak pantas berbicara tentang kekudusan Allah. Secara bahasa pun kita mengalami kesulitan karena bahasa juga memiliki keterbatasan ketika berbicara tentang atribut-atribut Allah karena kita tidak bisa membandingkan Allah dengan apapun. Di Keluaran diceritakan bahwa ketika Allah ingin bertemu dengan orang-orang Israel di atas gunung Sinai maka melalui perantaraan Musa sebelum hari ketiga orang-orang Israel diperintahkan untuk menyucikan diri, mencuci baju mereka masing-masing dan tidak boleh seorangpun maupun satupun binatang yang boleh naik ke gunung tersebut bahkan jangan sampai ada yang menyentuh kaki gunung tersebut atau mereka harus mati. Ketika Allah hadir di gunung Sinai pada hari yang ketiga terlihat api, gunung yang gempa, dan suara sangkakala yang menyatakan bahwa kesucian Allah tidak dapat terkatakan dan tidak dapat dimengerti secara menyeluruh atau komprehensif.



Latar Belakang
Pada v.1 disebutkan bahwa bagian ini dituliskan beberapa waktu setelah kematian Raja Uzia dari Kerajaan Yehuda atau yang disebut dengan Azarya ayah dari raja Yotam. Dikatakan bahwa Azarya melakukan apa yang benar dimana Tuhan (2 Raj. 15:3) tetapi ada satu dosa yang dia kompromikan yaitu dia tetap membiarkan bukit pengorbanan kepada allah asing. Raja-raja Yehuda melakukan kompromi sejak Yoas. Yoas dikatakan melakukan apa yang benar di mata Tuhan seumur hidupnya! Tetapi dia tetap mengkompromikan bukit-bukit pengorbanan. Dan tradisi kehidupan ini diteruskan secara terus menerus sampai kepada raja Uzia cucunya dan pada akhirnya cucu Uzia, raja Ahas mengorbankan anaknya sendiri sebagai korban di bukit pengorbanan yang dikompromikan oleh para leluhurnya. Akhirnya di dalam pemerintahan raja Ahas, raja Ahas mengorbankan anaknya sendiri di bukit pengorbanan yang dikompromikan oleh para leluhurnya tersebut. Ironis sekali bukan, apa yang dikompromikan tersebut akhirnya menjadi malapetaka bagi raja Yehuda sendiri. Inilah yang sering diteriakkan dari mimbar-mimbar Reformed untuk tidak memberikan celah sedikitpun untuk berkompromi karena dosa itu seperti sebuah lubang kecil yang ada pada bendungan. Jika lubang kecil itu dibiarkan maka air akan terus menekan lubang kecil tersebut. Air tidak akan mau tetap lolos dengan lubang yang sekecil itu tetapi dia akan semakin lama semakin memperbesar lubang itu dan akhirnya meruntuhkan bendungan itu dan menghancurkan dan membunuh setiap warga yang dilindungi oleh bendungan tersebut. Pada masa keadaan krisis moral yang terjadi pada kerajaan Yehuda dan pada masa ini juga lah kerajaan Israel/ kerajaan Utara dihancurkan oleh kerajaan Asyur inilah Yesaya mendapat penglihatan ini. Yesaya mendapat penglihatan dan mendengarkan kalimat Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!"



"Kudus, kudus, kuduslah”
Kudus dalam bahasa aslinya berasal dari kata kadosh, yang akar katanya berasal dari kata kad yang berarti memotong atau memisahkan. Atribut kekudusan ini pointer utamanya bukan mengarah kepada atribut moral berbicara sesuatu yang berbau moral walaupun aspek tersebut tetap ada, tetapi yang menjadi pengertian utama dari kekudusan adalah terpisah atau dipisahkan untuk Allah. Ketika hari sabat dikuduskan, maka hari itu terpisah/ dikhususkan dari hari-hari yang lain; ketika mesbah korban bakaran dikuduskan maka mesbah itu dipisahkan dari perabot-perabot yang lain. Ini yang merupakan locus/ esensi dari kekudusan, bukan mengenai moral tetapi mengenai sesuatu yang dipisahkan untuk Allah.
Karena atribut kekudusan ini jugalah maka manusia bisa merasakan nothingness, kehampaan yang mutlak, rasa sebagai seorang ciptaan, istilah Louis Berkhof “kesadaran makhluk” dan merasa diri sebagai sesuatu yang rendah. Kita bisa mengatakan bahwa sesungguhnya aku ini adalah ciptaan, aku ini dicipta karena atribut kekudusan Allah ini yaitu atribut yang memisahkan antara ciptaan yang pencipta yang sering digambarkan oleh Cornelius Van Til degan dua lingaran yang terpisah. Atribut kesucian Allah ini merupakan atribut yang menyatakan ketransendenan Allah, menyatakan kebesaran Allah, menyatakan Allah yang terpisah secara total dari manusia.
Di dalam Yes. 6:3 ini disebutkan tiga kali kata “kudus” yang sebagian teolog mengatakan bahwa ketika kata ini masing-masing diarahkan kepada pribadi Allah Tritunggal yang menyatakan bahwa Allah Bapa adalah kudus, Allah Anak adalah kudus, dan Allah Roh kudus adalah kudus. Dan atribut kudus adalah satu-satunya atribut yang disebutkan tiga kali secara sekaligus sehingga beberapa teolog mengatakan bahwa ini merupakan atribut yang paling sentral daripada atribut-atribut lain. Beberapa teolog konsevatif tidak setuju dengan pernyatakaan demikian karena atribut Allah adalah atribut yang berintegritas secara utuh dan masing-masing atribut tidak mendominasi atribut yang lain.

Di dalam Yes. 6:5 ketika Yesaya diperhadapkan kepada kekudusan Allah, maka dia mengerti bahwa dia adalah seorang yang berdosa, merasakan keberdosaannya, secara responsif Yesaya langsung mengatakan Lalu kataku: "Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam." Ketika seorang manusia diperhadapkan kepada kekudusan Tuhan maka barulah seorang manusia merasakan bahwa dia adalah seorang yang berdosa. Sehingga tidak mengherankan bahwa orang-orang yang tidak mengenal Tuhan tidak merasa bahwa mereka tidak berdosa, mereka merasa mereka tidak membutuhkan Tuhan. Namun Yesaya memiliki respon yang berbeda, ketika dia berhadapan dengan kekudusan Allah, Yesaya menyadari bahwa dia adalah makhluk yang berdosa.
Atribut kekudusan Allah ini begitu penting untuk dibahas bersama-sama dengan atribut yang lain. Karena atribut kekudusan inilah maka Allah yang mahahadir tidak akan pernah hadir di dalam kejahatan, karena atribut kekudusan Allah ini maka mahatahu Allah adalah mahatahu yang tidak pernah merancangkan kejahatan tetapi sebaliknya Allah yang mahahadir juga adalah Allah yang suci dalam setiap kehadirannya dan pengetahuan Allah adalah pengetahuan yang suci. Tidak ada satu titik ruang dan waktu pun yang dimana Allah tidak hadir dengan segala kekudusan-Nya. Sehingga karena fakta ini seharusnya kita takut dan gentar dihadapan Allah.

  • Mengapa sepasang yang berpacaran tidak segan-segan melakukan hal yang asusila ditempat yang tersembunyi? Karena mereka menganggap tidak ada Allah di sana.

  • Mengapa kita yang memiliki akses internet di ruangan kita yang paling private tidak takut membuka website yang tidak benar? Karena kita menganggap tidak ada Allah di sana.
Dengan fakta bahwa Allah hadir di dalam setiap titik ruang dan waktu dengan segala kepenuhannya seharusnya membuat kita takut dan gentar terhadap Allah.
Ilustrasi: Martin Luther ketika dia masih seorang katolik, dia seringkali datang meminta pengampunan, setelah dia meminta pengampunan kepada pastor, ketika hendak pulang menuruni tangga, dia berlari lagi ke pastor untuk meminta pengampunan. Karena dia merasa dirinya begitu berdosa dan najis dan dia tidak merasa memiliki kepantasan dihadapan Allah.

Menurut Habakkuk 1:13 Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman.
Sehingga Habakuk sangat heran mengapa Allah membiarkan orang-orang Israel dihabisi – Mengapa Engkau memandangi orang-orang yang berbuat khianat itu dan Engkau berdiam diri, apabila orang fasik menelan orang yang lebih benar dari dia?
Ilustrasi: di kampus saya memiliki teman sekamar lulusan musik dari Australia. Pertama-tama masuk kuliah saya seringkali mendengarkan musik-musik yang kurang baik. Pertama-tama dia diam saja namun pada akhirnya setelah lama kemudian dia menegur saya, “Ter! Sejujurnya saya terganggu dengan musik-musik mu selama ini.” Kenapa saudara-saudara? Karena suaranya terlalu baik untuk bisa mendengarkan musik-musik yang kurang baik.
Begitu juga Tuhan yang mata-Nya terlalu suci untuk melihat kejahatan, Allah tidak dapat memandang kelaliman. Namun meskipun kita berdosa, sampai sekarang kita tidak dihukum Tuhan itu hanya karena kesabaran Allah yang tidak terbatas (Rat. 3:22 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya).
Di dalam Yes. 6:4 dikatakan bahwa ketika Serafim berhadapan dengan kekudusan Allah Serafim menutup wajahnya dan kedua kaki. Kekudusan Allah adalah kekudusan yang menghanguskan menurut Ibr. 12:29. Kekudusan inilah membuat imam besar pada PL hanya boleh 1x setahun masuk ke ruang maha kudus; Kekudusan inilah yang membuat Musa menutup wajahnya ketika bertemu dengan Allah dalam rupa api; kekudusan inilah yang membuat Saulus terpelanting ketika melihat Yesus; kekudusan inilah yang membuat Yohanes hampir mati ketika melihat penampakan Yesus di pulau Galapagos.

Secara sistematika, kekudusan merupakan bagian dari atribut Allah yang dikomunikasikan/diberikan kepada manusia. Seperti yang sudah dibahas di minggu-minggu sebelumnya ada pembagian antara atribut Allah yang dikomunikasikan dan yang tidak dikomunikasikan.

  • Yang tidak dikomunikasikan diantaranya: mahahadir, mahatahu, keberadaan Allah, dan ketidakberubahan Allah, ketidakterbatasan Allah, kesatuan Allah.

  • Yang dikomunikasikan antara lain: atribut spiritualitas, intelektual – hikmat, kebijaksanaan, kebenaran; moral – kasih, anugerah, kesucian, kebaikan.
Karena atribut kekudusan ini dikomunikasikan kepada manusia, sehingga ini juga merupakan syarat khusus bagi seorang yang dikategorikan sebagai imam. Jika kebenaran merupakan syarat bagi seorang raja, dan pengetahuan merupakan syarat bagi seorang nabi, maka kekudusan merupakan syarat bagi seorang imam. Dengan kekudusan inilah imam memiliki hak untuk bisa memberikan persembahan kepada Allah. Tentu pada PL persembahan adalah binatang ataupun tumbuhan yang memiliki kategori-kategori tertentu sebagai prasyarat tertentu yang tertulis dalam imamat. Namun di PB kita yang selain memiliki fungsi seorang nabi dan raja, kita seorang yang memiliki fungsi sebagai seorang imam bukan lagi mempersembahkan korban berupa binatang maupun tumbuhan tetapi harus mempersembahkan hidup kita karena itu adalah persembahan yang kudus dan berkenan dihadapan Allah. Di PL syarat persembahan harus tanpa cacat dan cela, jika kita menarik ke kehidupan kita di masa PB sekarang. Pertanyaan:
  • Beranikah kita mempersembahkan diri kita sebagai persembahan yang tidak kudus?

  • Apakah kita mempersiapkan hati kita dan menjaga kehidupan moral kita?

  • Terlebih menurut teologia reformed setiap kegiatan kita adalah sebuah pelayanan dihadapan Allah?

Memang di zaman ini jumlah orang Kristen semakin banyak, jumlah gereja meningkat dengan drastis namun kesucian semakin lama semakin ditinggalkan, kekudusan bukan merupakan hal yang dikejar-kejar orang Kristen lagi. Seperti yang di share o/ salah satu jemaat kita pada PD sabtu lalu dimana orang-orang yang membuat stempel palsu untuk meraih uang adalah orang-orang Kristen.

Abraham Kuyper berkata bahwa - Tidak ada satu inci kehidupanmu yang tidak di claim o/ Yesus di dalam diri kita dimana Yesus tidak berkata, “Itu milikku!” Sehingga di setiap aspek kehidupan kita, kita dituntut untuk hidup kudus. Dan satu hal yang kita harus sadari bahwa menurut Ibr. 12:4 syarat kita bisa melihat Allah adalah “kekudusan”.

0 comments:

Post a Comment