Medan ,24 Juni 2011
Apa itu esensi manusia?
Adik-adik, hari ini kita ingin membahas tentang pertumbuhan. Setiap makhluk hidup pasti bertumbuh, setiap makhluk hidup yang diciptakan TUHAN pasti bertumbuh. Tumbuh-tumbuhan bertumbuh, binatang bertumbuh, dan manusia pun bertumbuh. Tumbuhan yang benihnya jatuh di tanah akan menghasilkan tunas, tunas menjadi batang, batang mengeluarkan ranting, dari ranting keluar bunga dan buah. Begitu juga binatang: binatang bertumbuh mulai dari sel sperma bertemu dengan ovum ada yang sebagai ovipar, vivipar, ovovivipar. Manusia juga bertumbuh mulai dari sel sperma dan ovum bertumbuh. Lah? Apa yang membedakan manusia dengan binatang? Sama-sama dari sperma dan ovum. Alkitab mengatakan bahwa Allah Tritunggal menimbang-nimbang lalu berkata satu dengan yang lain, “Marilah kita menciptakan manusia menurut gambar dan rupa kita.” Waktu TUHAN menciptakan alam semesta dan seluruh isinya, Tuhan tidak sekalipun berkata hal tersebut. Tidak satupun ciptaan TUHAN yang diciptakan menurut gambar dan rupa ALLAH sebelumnya. Tumbuh-tumbuhan dikatakan “Hendaklah tanah mengeluarkan tumbuh-tumbuhan.” Waktu menciptakan binatang dikatakan “Hendaklah tanah, air mengeluarkan binatang.” Tetapi tidak dikatakan bahwa Allah dengan tangan-Nya secara langsung, Allah tidak menimbang-nimbang/ tidak berpikir dengan begitu seriusnya untuk menciptakan alam semesta. Tetapi ketika menciptakan manusa, maka Allah menimbang-nimbang dan menciptakan manusia. Jadi, yang menjadi esensi/ natur/ keutamaan manusia adalah manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Esensi manusia bukan kesadaran yang diajarkan oleh beberapa orang tetapi gambar dan rupa Allah. Bagaimana maksudnya gambar dan rupa itu? Pernah bercermin? Coba lihat dicermin, itu gambar siapa? Itu gambaran mu. Itu rupa siapa? Itu rupa mu. Jadi waktu kita berkaca kita melihat gambar dan rupa kita. Jadi, sekali lagi: esensi manusia apa? Gambar dan rupa Allah (Image of God), bukan kesadaran. Kalau engkau dan saya esensinya adalah kesadaran, maka waktu sperma dan ovum bersatu maka engkau dan saya bisa diaborsi/ bisa dibunuh. Karena waktu masih ada di kandungan engkau dan saya belum memiliki kesadaran. Siapa yang sudah sadar waktu masih ada di kandungan orangtua? Siapa yang ingat sesuatu? Tidak ada. Tetapi waktu sperma dan ovum bersatu di rahim ibu kita, maka di situ mulai yang namanya gambar dan rupa Allah, sehingga tidak boleh dibunuh, tidak boleh diaborsi. Kalau kita membunuh maka kita benar-benar orang yang sangat berdosa karena sudah membunuh gambar dan rupa Allah, membunuh makhluk yang terpenting yang pernah diciptakan manusia. Jadi apakah kita boleh menghina orang gila dipinggir jalan? Apakah kita boleh hina orang idiot/ orang yang jauh lebih bodoh dari kita, jauh lebih miskin dari kita? Tidak boleh. Karena mereka juga adalah manusia yang adalah gambar dan rupa Allah. Waktu engkau dan saya menghina gambar dan rupa Allah berarti engkau dan saya menghina Allah sendiri. Coba bayangkan waktu orang berkaca dan kita melihat bayangan orang tersebut dalam kaca dan kita bilang, “Kau jelek, kau bodoh..” Orang yang berkaca itu tersinggung tidak? Pasti tersinggung. Kok tersinggung? Kan yang dihina itu bayangan yang ada dikaca? Ya. Karena bayangan/ gambar yang dihina tersebut adalah mewakili orang yang sesungguhnya.
Jadi sebagai gambar dan rupa Allah kita senantiasa/ selalu mencari Allah yang menciptakan kita menurut gambar dan rupa-Nya. Karena Allah itu adalah Roh, maka kita yang dicipta menurut gambar dan rupa-Nya menjadi makhluk rohani artinya kita senantiasa bersifat religius. Kita senantiasa mencari Allah. Kalian ada di sini sedang belajar Alkitab adalah tanda kalian adalah gambar dan rupa Allah. Bebek tidak diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Jadi kalian tidak akan pernah lihat bebek datang ke gereja lalu berdoa bersungguh-sungguh. Kucing tidak diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sehingga kalian tidak akan pernah melihat tiba-tiba kucing datang mendaftar di acara ini lalu duduk diantara kalian dan mendengarkan Firman Tuhan, lalu dia terharu, menangis, dan mengangkat tangan untuk bertobat dan mengatakan “miaung.” Tidak. Hanya manusia yang mencari Allah, hanya manusia yang punya kemampuan beribadah. Jika kita melihat dari perjalanan sejarah, dari kebudayaan yang paling kuno, dari kebudayaan yang paling jahat sekalipun, mereka semua percaya kepada ada apa yang lebih besar dari mereka yang bersifat spiritual/ yang bersifat rohani yang harus mereka sembah, mereka percaya ada sesuatu yang bernama allah. Apa kebudayaan yang paling maju pertama? Kebudayaan Mesopotami. Apakah mereka percaya ada allah? Ya, mereka punya agama dan percaya kepada allah. Kebudayaan yang paling kejam/ tidak manusiawi kebudayaan apa? Kebudayaan di Amazon, yang kanibal/ makan manusia. Apakah mereka percaya kepada allah? Ya, mereka percaya kepada allah. Karena mereka percaya kepada allah lah maka mereka memakan orang. Karena mereka percaya/ punya konsep yang salah tentang allah. Semua orang yang ada di dunia ini pasti mencari allah karena apa? Karena dicipta menurut gambar dan rupa allah.
Lalu, semua makhluk hidup bertumbuh. Apa yang membedakan pertumbuhan manusia dan makhluk hidup lain? Lebih jauh lagi, bagaimana perbedaan antara manusia yang Kristen dan manusia yang bukan Kristen?
Mari kita lihat: Gal. 2: 20 : Kita harus bertumbuh menjadi sama seperti Kristus.
Siapa itu Kristus? Kristus adalah Allah yang turun ke dalam dunia untuk menjadi manusia untuk menebus dosa kita orang-orang yang akan percaya kepada-Nya. Dia adalah Allah yang kekal yang bersama Allah Bapa menciptakan alam semesta. Coba bandingkan Yoh. 1 dan Kej. 1: Kristus adalah Firman yang mana di Kej. 1 ketika Allah menciptakan dunia maka Allah ber-Firman. Firman itu adalah Kristus. Jadi, Allah Bapa menciptakan alam semesta ini bersama-sama dengan Kristus. Dan Allah Bapa dan Anak itu setara. Darimana kita tahu? Karena ketika menciptakan manusia mereka: Allah Bapa, Allah Anak (Kristus), dan anak RK bersepakat/ berunding. Itu membuktikan bahwa Allah Tritunggal adalah setara.
Nah, kita diperintahkan untuk sempurna seperti Kristus karena bukan kita yang hidup tetapi Kristus yang hidup di dalam kita. Apa artinya? Kita hidup menurut jalan-jalan yang Kristus inginkan, kita hidup seperti Kristus hidup. Lalu siapa itu Kristus?
1. Kristus adalah Allah.
2. Kristus adalah manusia.
Alkitab bilang, dia bukanlah Allah yang tidak mengerti kesulitan manusia, tetapi dia adalah juga seorang manusia yang mengerti pergumulan kita. Dia dicobai tetapi tidak jatuh ke dalam dosa. Karena Kristus adalah sempurna sebagai manusia maka kita juga memiliki pengharapan bahwa kita sebagai seorang manusia bisa hidup benar sebagaimana Yesus itu adalah manusia yang bisa hidup dengan benar.
1. Dia lahir.
Sebagai seorang manusia, sama seperti manusia yang lain: Yesus Kristus punya awal sebagai manusa di dunia ini. Yesus Kristus pernah lahir, pernah menjadi bayi, lahir di kandang binatang. Tetapi dia lahir bukan dari benih laki-laki yang bertemu dengan benih wanita. Dia bukan dari sperma. Tetapi dia ada dari benih RK. Bukan karena nafsu laki-laki tetapi dia dari benih Allah.
2. Dia pernah menjadi anak-anak.
Sebagaimana manusia yang lain, Kristus itu tidak lahir langsung besar tetapi Kristus itu lahir dan bertumbuh sama seperti engkau dan saya. Dia bertumbuh dari bayi semakin-lama semakin besar menjadi anak kecil. Waktu umur 5 tahun, sama seperti anak-anak Yahudi lain, semua mereka harus masuk sekolah Taurat dan mereka sekolah taurat sampai umur 12 tahun. Jadi, Yesus sebagai manusia juga butuh yang namanya sekolah. Yesus sebagai manusia itu pikiran-Nya tidak langsung sempurna. Meskipun dia adalah Allah sekaligus manusia. Yesus sebagai Allah itu punya pengetahuan yang sempurna, tetapi dia juga sekaligus manusia yang pengetahuannya berkembang. Dia harus belajar untuk menuntut pengetahuan. Jadi, sebagai manusia Kristus itu sekolah Taurat (PL) selama 7 tahun. Nah, Yesus aja sekolah, apalagi kita. Yesus itu aja rajin sekolah, dia rajin belajar. Kita masih berani tidak rajin belajar? Juruselamat kita tidak pernah bolos sekolah, kita masih berani suka bolos sekolah? Dia bertumbuh secara sempurna di tahap-tahap hidup-Nya. Saat dia menjadi bayi, dia menjadi bayi yang sempurna. Dia tidak pernah melakukan dosa. Waktu Yesus menjadi anak-anak, dia menjadi seorang anak yang rajin beribadah, rajin sekolah, menjadi anak yang baik dan dia menjadi sempurna sebagai seorang anak-anak. Dia suka bermain pasti! Ya. Tetapi Dia tidak menjadi anak yang nakal yang kerjanya hanya bermain saja, tetapi Dia menjadi anak yang taat kepada orang tua dan taat kepada Allah. Alkitab bilang, “Dia semakin bertumbuh dan dikasihi oleh Allah dan manusia.”(Luk. 2:52). Jadi, Kristus hidup benar waktu dia kecil tidak? Ya. Dia hidup benar. Kalau tidak hidup benar mana mungkin dikasihi oleh manusia sekaligus dikasihi oleh ALLAH. Mungkin kalau seorang anak nakal mungkin dia tetap dikasihi oleh manusia (walaupun lebih sering tidak dikasihi) tetapi pasti tidak dikasihi oleh Allah.
3. Dia pernah menjadi remaja.
Pada waktu remaja, dia adalah seorang yang taat terhadap orang tuanya. Dia menjadi anak yang rajin membantu pekerjaan ayah-Nya: Yusuf. Dia menjadi seorang anak tukang kayu. Dia bekerja seperti ayahnya sebagai tukang kayu. Dia bukan anak yang suka menentang orang tua karena mentang-mentang pintar, mentang-mentang Mesias. Tetapi Dia taat kepada ayah-Nya di dunia. Kita masih berani tidak taat kepada orangtua padahal Yesus yang adalah Allah taat kepada orangtuanya di dunia?
Pertumbuhan-pertumbuhan apa saja yang dialami oleh Kristus?
1. Bertumbuh dalam pengetahuan/ pengenalan akan Allah. Pengetahuan di sini bukan pengetahuan di pikiran saja tetapi lebih kepada hikmat. Hikmat artinya sebuah kemampuan praktis dari semua yang diketahui. Jadi bukan sekedar pengetahuan. Hikmat berarti kita dengan sungguh-sungguh mengimani apa yang kita pelajari. Iman yang sungguh itu memiliki 3 unsur:
· Notitia: pengetahuan tentang sesuatu.
· Asensus: persepakatan/ persetujuan tentang notitia tersebut.
· Viducia: bersandar sepenuhnya kepada apa yang kita percaya.
Jadi, iman yang sesungguhnya/ pengetahuan sesungguhnya/ hikmat yang sesungguhnya itu adalah kemampuan untuk melakukan apa yang kita imani. Illustrasi: Suatu ketika ada seorang pemain acrobat yang biasanya dengan menggunakan tali dia melewati sebuah jurang. Di atas tali itu dia menaiki sebuah roda dan dengan menggunakan roda di atas tali itu dia mondar mandir jurang. Lalu dia bertanya, “kalian sudah sering melihat saya melewati jurang dengan menggunakan roda. Sekarang saya mau tanya lagi: siapa yang percaya kalau sekali lagi saya melewati tali ini saya akan selamat?” Semua orang bilang, “ya.. saya percaya.” Pemain acrobat itu bilang, “kalau begitu siapa yang mau naik di punggung saya waktu melewati tali itu?” Tebak, apakah ada yang bilang, “saya!” Tidak ada. Nah, iman yang seperti itulah iman yang sampai kepada tahap kedua (Asensus), hanya persetujuan tetapi tidak mau menyerahkan diri atas apa yang dia percaya.
Tetapi Kristus tidak seperti itu. Dia menyerahkan secara total diri-Nya kepada Allah yang dia percaya sebagai dia adalah manusia. Sehingga di Luk. 3:22 tidak heran jika Allah Bapa bilang, “inilah Anak-Ku yang kukuasih, kepada-Nyalah aku berkenan.” Karena apa? Karena Kristus memiliki iman yang terkait/ berpaut/ berserah kepada Sang Bapa.
Kitab Hosea mengatakan bahwa, “janganlah bermegah kepada pengetahuan, kekayaan, atau segala sesuatu, tetapi bermegahlah kepada yang satu ini. Apa itu? Pengenalan akan ALLAH.” (Bdg. 2 Pet. 3:18).
Jadi, pengenalan akan Allah penting tidak? Darimana kita semakin mengenal Allah?
· Melalui Alkitab dan penafsirannya: PA. Kristus adalah orang yang mendasarkan diri atas Alkitab, kotbah hari minggu/ sekolah minggu.
· Persekutuan. persekutuan remaja (saling menguatkan dengan rekan-rekan seiman – Yesus juga melakukan hal yang sama. Minta para murid menyertai-Nya (Mrk. 3:14; Transfigurasi - Mrk. 9:2-13; di Geetsemani - Mrk. 14:33-42).
· Berdoa (Yesus juga berdoa untuk tetap focus kepada Allah).
· Buku-buku yang bermutu.
2. Kristus bertumbuh melalui disiplin hidup.
Bertumbuh memiliki arti kata militer/ pelayaran. Ketika kita berkata bahwa Yesus Kristus bertumbuh secara rohani dan karenanya Ia mampu menolong kita bertumbuh secara rohani. Sama seperti kita menemukan banyak kesulitan di jalan hidup kita, demikian pula yang Yesus alami. Ia merasakan berbagai tekanan yang kita alami untuk berkompromi dan digoda oleh berbagai pencobaan.
· Xp dicobai
Xp dicobai dengan kekuatan maximum dari Iblis, iblis dikalahkan dan kita hanya melawan yang jauh lebih ringan sehingga Alkitab bilang, “pikullah kuk yang kupasang dan bebanku pun ringan.” Kita tidak usah dicobai di padang gurun 40 hari 40 malam tanpa makanan, kita dengan Facebook aja sudah sering kalah. Facebook aja, yang ringan. Itu pencobaan kita. Tidak usah dikhianati oleh murid-murid seperti Tuhan Yesus, kita dengan film-film sinetron yang tidak bermutu aja sudah digoda dan kita kalah. Kita lawan film-film sinetron yang tidak bermutu aja dulu deh.. Sebenarnya pencobaan yang kita alami itu adalah pencobaan yang jauh-jauh lebih ringan. Kenapa? Karena Kristus sudah mengalahkan bos-nya: Iblis. Dengan seluruh kekuatan max. iblis melawan Yesus tetapi Iblis akhirnya kalah dan tepar (bdg. Kol. 2:15; Ibr. 2:14). Alkitab katakana bahwa di Gadara Iblis melawan Yesus dengan 1 legiun pasukan iblis tetapi Iblis tidak dapat mengalahkan Yesus.
Ia hidup di dalam keserupaan dengan daging yang berdosa (Rom. 8:3). Ia mengalami kelemahan, kelaparan dan kehausan, ketakutan, dan permusuhan, sama seperti yang dia alami.
Para penulis Injil menggarisbawahi fakta bahwa Kristus tidak datang ke Eden yang segala sesuatunya terasa indah, nikmat, segala yang diperlukan tersedia. Sangat nikmat; tetapi dia datang ke dunia yang rusak, jelek dan dia dicobai dipadang gurun yang panas, banyak binatang buas, tidak ada makan dan minum tetapi dicobai namun tidak kalah – kontras antara Kristus dan Adam. (1 Kor. 15:45, 47 bdg. Luk. 4:1-2; Mrk. 1:12,13).
· Xp mengalami penolakan dan disalah mengerti.
Yesus saudaranya sendiri tidak menerima dia. Dia disalah mengerti. Dia dianggap gila oleh ibu-Nya: Maria dan saudara-saudara kandungnya: Yoses, Yudas, dan Yakobus. Tapi Yesus tetap taat kepada orangtua-Nya. Seorang yang benar adalah orang yang tidak harus membela diri. Biasanya kita membela diri dengan melawan orang yang benci kepada kita. Tetapi kecenderungannya adalah berkelahi/ berdebat. Tetapi Yesus senantiasa taat kepada orangtuanya. Bagaimana dengan kita? Ketika di salah mengerti, yang perlu kamu lakukan adalah biarlah mereka melihat bahwa engkau tidak seperti yang mereka katakan. Apa pernah kalian baca waktu Yesus dihina, oleh saudara-sadaranya: “engkau gila Yesus!” Teman-teman sepermainannya menolak dia dari kampungnya. Apa pernah baca Yesus membela diri/ membalas dendam? Apa pernah baca Yesus berkata, “Aku Mesias.. Mau aku ubah kamu jadi kodok?” Tidak! Dia pergi, mengalah. Dan melakukan kehendak Bapa. Taat kepada Bapa. Seorang Kristen tidak dipanggil untuk membela diri tetapi dipanggil untuk membela kebenaran, melakukan kebenaran. Disiplin meskipun kita dianiaya.
Xp juga sering disalahpahmai oleh murid-murid-Nya.
3. Kristus bertumbuh di dalam ketaatan.
· Taat kepada Allah dan Hukum-Nya
Dia dari kecil adalah seorang anak yang taat kepada Allah dan Hukum-Hukum Allah (Gal. 4:4). Dia dilahirkan di bawah hukum Taurat. Dia adalah Sang Pembuat hukum itu, tetapi Dia rela berada di bawah hukum tersebut. Kristus yang adalah TUHAN rela turun ke dalam dunia. Bukan jadi bos, bukan jadi raja tetapi lahir dikandang binatang, tidak hanya itu, dia juga lahir dari keluarga yang miskin, tidak hanya itu saja dia rela tunduk di bawah hukum taurat yang mana Dia adalah pencipta dari hukum tersebut.
Dia tidak taat sekedar taat saja/ dengan santai dia taat, tetapi Dia taat dengan segala pergumulan tetapi dengan sepenuh hati Kristus menghadapi setiap pergumulan yang Dia hadapi: Dia dicobai, Dia dihina, Dia dilempari batu, Dia diusir dari kampung-Nya tetapi Dia menang dan Dia taat sebagai manusia sampai pada puncak batas dia sebagai manusia. Kristus bertumbuh dalam ketaatan (Yoh. 10:17) -> Semakin dia taat Bapa, maka Bapa semakin mengasihi Kristus. Karena Kristus menyerahkan nyawa-Nya maka Kristus makin dikasihi oleh Bapa.
· Taat kepada orang Tua-Nya.
Tidak hanya itu saja, meskipun Dia adalah juruselamat tetapi dia adalah seorang yang tetap taat kepada orangtua-Nya. Dia bukan seorang yang pamer jago, sok pintar, bukan main-main dengan kekuatannya mengubah manusia jadi kodok, dll. Tetapi Dia adalah seorang Mesias, seorang Allah yang turun ke dalam dunia menjadi manusia tetapi rela taat dibawah seorang wanita yang berdosa yaitu ibu-Nya. Waktu sebentar lagi Yesus mati di atas kayu salib, dia masih sempat mengatur murid-Nya, Yohanes untuk mengasuh ibu-Nya.
Xp adalah model (Archegos) bagi kehidupan kita (Kis. 3:15). Xp adalah kapten di dalam perang. Dia maju paling pertama jauh meninggalkan pasukannya. Lalu meratakan jalan, menghabisi musuh-musuh dan akhirnya membiarkan kita menghadapi sisa-sisa-nya.
Terry Herianta T.
Mahasiswa.
0 comments:
Post a Comment